Seringkali kita jumpai pada
acara semaan al-Quran atau khotmil Quran, Qori’ masih melanjutkan bacaannya setelah
selesai membaca surat An-Nâs, disambung bacaan Al Fatihah kemudian Alif Laam
Miim sampai pada "Ulaaika humul muflihuun" kemudian disambung
lagi bacaan akhir suroh Al Baqoroh ( Aamanar rosuul sampai kata anta maulaana
fanshurnaa ' alal qoumil kaafiriin ), dan ternyata hal ini juga dilakukan Nabi
SAW.
سراج
القارئ المبتدئ، ص. ٤٠٠
تكميل
: في مسائل تتعلق بالحتم. الاول ثبت النص عن المكى من رواية البزي وقنبل وغيرهما
ان من قرأ وختم الي آخر الناس قرأ الفاتحة والي المفلحون من اول البقرة وشاع العمل
بهذا في سائر بلاد المسلمين في قراءة العرب وغيرها للمكى وغيره سواء انوى ختم ما
شرع فيه ام لا ولهم علي ذلك ادلة منها ما هو مأثور عن النبي صلي الله عليه وسلم
ومنها ما هو عن السلف ومنها ما هو عن المقتدي بهم من الخلف فقد روي عن المكى من
طرق عن درباس مولذ ابن عباس عن عبد الله ابن عباس عن ابي ابن كعب رضي الله عنهم عن
النبي صلي الله عليه وسلم انه كان اذا قرأ قل اعوذ برب الناس افتتح من الحمد ثم
قرأ من البقرة الي واولئك هم المفلحون ثم دعا بدعاء الختم ثم قام.
Penyempurnaan ; Permasalah permasalahan
yang berkaitan dengan khotmil Qur’an.
Pertama,
Adanya dalil nash dari Al-Makki yang diriwayat oleh Imam Al-Bazzi dan Imam Qunbul
dan selain keduanya, bahwasannya orang yang membaca dan mengkhatamkan (bacaan
Al Quran) sampai akhir surat An-Naas, lalu ( dilanjutkan ) membaca Al-Fatihah
sampai pada "Ulaaika humul muflihuun" dari awalnya surat
Al-Baqoroh itu sudah menjadi amaliyah yang tersebar luas di seluruh
negara-negara Islam, (baik) itu amliyyah bacaan di negara Arab sendiri maupun
negara lainnya.
baik bagi Al Makkiy dan lainnya, baik berniat menghatamkan bacaan yang ia lakukan (yang i abaca) atau tidak. Bagi mereka (yang menghatamkan al-qur’an) memiliki beberapa landasan. Diantaranya; berdasarkan terhadap apa yang dilakukan oleh beliau Nabi Muhammad SAW, Amaliyah para Ulama salaf, Meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf.
baik bagi Al Makkiy dan lainnya, baik berniat menghatamkan bacaan yang ia lakukan (yang i abaca) atau tidak. Bagi mereka (yang menghatamkan al-qur’an) memiliki beberapa landasan. Diantaranya; berdasarkan terhadap apa yang dilakukan oleh beliau Nabi Muhammad SAW, Amaliyah para Ulama salaf, Meneladani dari amaliyyah para Ulama kholaf.
Telah
diriwayatkan dari Al Makkiy dari jalur Dirbaas , hamba sahaya dari Ibnu Abbas
dari Abdullah Ibnu Abbas dari Ubay Ibn Ka'ab ( Semoga Allah meridhoi mereka
semua ) dari Nabi SAW, “Bahwasannya Rasulullah SAW ketika selesai membaca
" Qul a'uudzu birobbin Naas" beliau memulai lagi dengan bacaan
tahmid kemudian membaca ( sebagian ayat ) dari surat Al-Baqoroh sampai pada
ayat "Wa Ulaaika Humul Muflihuun", kemudian beliau berdo’a
dengan do’a khotmil Qur’an, lalu beliau berdiri.
Dari keterangan di atas, maka menurut
hemat saya Admin Kajian Aswaja Tulen, bahwasannya apa yang sudah menjadi
kebiasaan para Qori’ yang menghatamkan al-qur’an itu sudah sangat sesuai dengan
apa yang telah di ajarkan oleh Rasulullah SAW, bukan merupakan perbuatan yang
mengada-ada (bid’ah) oleh seorang qori’ sebagaimana yang dipahami oleh
sebagian orang muslim.
0 Response to "Dasar dalil khataman al-Qur'an"
Posting Komentar